131223

Jilbab.

Dulu gue pake kerudung sepanjang SD dan SMP, mengingat gue masuk MI dan MTS. Gue fine fine aja pakenya. Nothing really matters. Itu hanya penutup kepala. Or so that I thought.

Gue lepas jilbab pas SMA. Lebih ke arah gak nyaman karena gue sudah lebih memahami hakikat jilbab yang sebenarnya. Menutup aurat dan menjaga hati, pikiran, omongan, dan kelakuan. Gue masih ngerasa gak bisa menjaga semua itu jadi gue lepas. Mungkin belom dapet ‘panggilan’ aja kali ya saat itu. So gue lepas dan perlahan-lahan coba memperbaiki sisanya. Entahlah, kalian saja yang nilai apa gue sudah sukses melakukannya hahah

Frankly, gue gak bermasalah sama item of clothing-nya. Cuma gue ngerasa terlalu banyak perempuan yang pakai jilbab tapi hanya sekedar pakai aja. Demi asas stylish semata (hijab yang dimodel macem-macem sampe berkonde plus pakaian yang ketat binti see-through gtu, ya Tuhan, tolong sensor mata gue). Kelakuan sama perkataan gak bisa dijaga. Ngomong seenaknya. Berlaku seenaknya di ruang publik (yang suka baca tweet gue pasti tau seberapa sebelnya gue sama kelakuan mereka di angkot!). Gak pantes aja gitu.

Kalo gue inget-inget, dulu itu gue pernah bermasalah yang agak nasty sama salah satu dosen kampus yang pake kerudung. Gue kurang inget apa tapi intinya dia ngejelekin gue di muka umum padahal we shared the same fault. She pretended to be a saint, padahal masya Allah, kalo mau disamain ya, omongannya gak beda jauh kotornya sama tong sampah -_- pake kerudung lho dosen itu! Bukan dosen yang ngajar gue pula!

So yaah, mulai saat itu gue lebih suuzhon sama wanita berjilbab. To think of it, this far, belum ada yang bener-bener ‘berjilbab lahir batin’. Zero. Zilch. Either omongannya minta disiram harpic atau badannya minta dilipet trus masukin koper. Sorry to say.

Sebenernya gak susah kan menjaga omongan. Sufi pernah bilang, sebelum ngomong, coba pikir dulu deh. Bener gaknya, penting gaknya, baik gaknya. Kalo gak, diem aja. Kelakuan juga gitu. Coba deh posisikan diri di pihak penonton dan bukannya pelaku. Sopan dan santun gaknya kelakuan yang akan kita lakukan. Gue bener-bener gak habis pikir.

Mohon maaf bagi teman-teman yang berjilbab kalau postingan ini agak nyelekit. This is personal rant from a victim herself. Dan gue sama sekali gak jilbab-shaming atau menyanjung mereka yang gak berjilbab, karena jujur, ini semua kembali pada individunya sendiri. Dan hubungan kalian sama Tuhan kalian, gak bergantung pada a piece of clothing. Semoga ke depannya gue bisa menemukan perempuan yang bener-bener jilbabnya lahir batin. Atau mungkin jadi perempuan itu. Amin.

Advertisements

Author: Allison Nakamura

Tannya Aditya. Also known as Allison Nakamura of @DBSKCassIndo. Editor by weekdays, blogger on weekend. Quiescent misanthropist and sugoi motherfucker. 東方神起ファン. http://tohosync.flavors.me/

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s